WRP Loseweight special discount.

 Read more ...
WRP Loseweight

Kenapa Status Gizi Normal Penting untuk Imunitas? Yuk Simak Penjelasanya!

Kenapa Status Gizi Normal Penting untuk Imunitas? Yuk Simak Penjelasanya!
Virus Covid-19 di Indonesia semakin tinggi, banyak orang yang mencari suplemen maupun merubah pola hidup agar semakin sehat. Namun, ada indikator penting yang ternyata mempengaruhi sistem imunitas seseorang lho salah satunya adalah status gizi. Kita simak yuk penjelasannya!

Ladies, menjaga imunitas tubuh tentu menjadi konsen utama kita dimasa pandemi saat ini. Banyak orang berusaha untuk meningkatkan imunitas, baik dengan konsumsi makanan, suplemen, ataupun aktifitas fisik. Namun, ternyata status gizi kita juga dapat mempengaruhi imunitas tubuh loh.  Banyak penelitian sebelumnya yang menunjukan berbagai resiko penyakit dari malnutrisi, baik gizi lebih atau obesitas maupun gizi kurang. Begitupun di masa pandemi covid-19 ini, status gizi juga dapat meningkatkan resiko morbiditas (kesakitan) maupun mortalitas (kematian). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga manajemen berat badan yang baik, supaya status gizi kita tetap normal. Lalu apa saja ya manfaat yang kita dapatkan jika status gizi kita normal selama pandemi ini?

  1. Respon Imun Lebih Kuat

Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang dengan status gizi normal memiliki respon imun yang lebih baik dibandingkan dengan orang malnutrisi. Gizi lebih ataupun gizi kurang dapat menyebabkan perubahan pada respon imun bawaan dan adaptif, yang menyebabkan kerentanan yang lebih besar terhadap infeksi. Orang yang obesitas memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap berbagai infeksi bakteri, virus, dan jamur, serta tanggapan yang lebih buruk terhadap vaksinasi. Sementara pada orang gizi kurang, sistem kekebalan juga tidak dapat merespon dengan baik karena kondisi defisiensi nutrisi disertai dengan gangguan kekebalan bawaan dan peningkatan kerentanan terhadap tingkat keparahan infeksi.

 

  1. Proses Penyembuhan Lebih Cepat

Pada pasien obesitas, respon sel B dan T juga terganggu dengan penurunan respon proliferasi limfosit. Respon yang terganggu ini menghasilkan peningkatan sensitivitas dan keterlambatan dalam resolusi infeksi virus. Obesitas meningkatkan keparahan dan durasi infeksi virus, serta meningkatkan potensi evolusi varian virus patogen. Pasien dengan gizi kurang juga menunjukkan insidensi sindrom gangguan pernapasan akut yang lebih tinggi secara signifikan dan proses penyembuhan yang lebih lama. Sedangakan pada orang dengan status gizi baik, kemungkinan untuk sembuh lebih cepat dari infeksi dapat meningkat karena respon imunnya yang baik.

 

  1. Mengurangi Resiko Komplikasi

Gizi kurang dan obesitas dapat memicu penyakit lain yang dapat menjadi faktor meningkatnya keparahan COVID-19. Obesitas secara progresif dapat menyebabkan dan atau memperburuk berbagai penyakit penyerta, termasuk hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, dislipidemia, dan penyakit kardiovaskular, Obesitas mengakibatkan penurunan respon imun terhadap agen infeksi dan meningkatkan risiko sindrom gangguan pernapasan akut, yang mengarah ke hasil pasca infeksi yang lebih buruk. Orang dengan gizi kurang juga memiliki resiko lebih tinggi untuk masuk ICU dan mengalami keparahan lebih tinggi dibanding orang dengan status gizi baik.

 

Ternyata status gizi yang baik tidak hanya bertujuan untuk keindahan dan kecantikan ya ladies, namun juga dapat membantu kita untuk terhindar dari berbagai penyakit dan membantu proses penyembuhannya. Malnutrisi dan penyakit infeksi memiliki hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu, penting untuk kita selalu menjaga berat badan normal untuk menjaga imunitas selama pandemi ini.

 

Sumber :

Albashir, A. (2020). The potential impacts of obesity on COVID-19. Clinical Medicine 2020 Vol 20, No 4: e109–13.

Calder, PC. (2020). Nutrition, Immunity and COVID-19. BMJ Nutrition, Prevention & Health. (3).

Morais, A. et.al. (2021). Nutritional status, diet and viral respiratory infections: perspectives for severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. British Journal of Nutrition. 125, 851–862